Seni Budaya Lokal Sebagai Bagian dari Tradisi Islam

HomeSainsAgama  on 11 September 2013    comments  

Disaat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam memiliki karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan.

Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak lama serta dapat dilacak bukti-buktinya.

Masjid Demak adalah contoh konkret dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada asa tersebut diambil konsep ‘Meru’ dari masa pra-Islam (Hindu-Budha) yang bterdiri atas sembilan susun.

Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim: iman, Islam, Ihsan. Tentu saja hal ini berbeda dengan Kristen yang membuat gereja dengan arsitektur asing, arsitektur Barat.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga dengan agama Hindu. Islam, sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke Indonesia. Hanya saja akhir-akhir ini bentuk kubah disesuaikan.

Dengan fakta tersebut, dapat diketahui bahwa Islam tidaklah agama yang Anti Budaya. Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India misalnya, sangat jelas terlihat dalam bangunan-bangunan masjidnya, demikian pula pengaruh arsitektur khas mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak varian.

Yang patut diamati pula, kebudayaan di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan penting dalam kebudayaan populer di Indonesia seperti kosakata bahasa Jawa maupun melayu, pesantren, kalender Jawa, Menara dan Cungkup Masjid, tata ruang kota, kaligrafi.

/body>