Pengertian dan Makna Puasa Ramadhan

HomeSainsAgama  on 08 July 2013    comments  

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT. Bulan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar dan segala amal perbuatan kita akan dilipatgandakan pahalanya.

Dalam bulan puasa ramadhan ini tiap muslim diseluruh penjuru dunia yang telah balig dan berakal diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Puasa berasal dari bahasa Arab Assiyamu yang berarti menahan. Puasa disini dapat diartikan menahan dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah puasa tersebut. Hal ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT pada Surah Al Baqoroh ayat 183 yang memiliki arti: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 183).

Berikut ini merupakan beberapa ketentuan dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan:
1. Menentukan Awal dan Akhir Bulan Puasa Ramadhan
Dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan kita bisa melakukannya dengan dua cara. Pertama dengan cara ru’yah. Ru’yah adalah melihat secara langsung dengan mata kita sendiri maupun dengan alat-alat tertentu penampakan dari hilal (bulan sabit) sebagai pertanda awal bulan.

Cara kedua adalah dengan hisab. Cara ini dilakukan dengan menghitung posisi hilal melalui bantuan ilmu Falak, Hisab dan Astronomi.

2. Syarat Puasa
Syarta puasa terdapat ada dua, yakni syarat wajib puasa dan syarat sah puasa. Adapun syarat wajib puasa adalah Islam, balig, berakal dan mampu melaksanakan puasa. Sedangkan syarat sah puasa adalah: Islam, mumayyiz, suci dari haid dan nifas, niat berpuasa serta dalam waktu yang diperbolehkan puasa.

3. Niat Berpuasa
Niat pada dasarnya merupakan keinginan atau kemauan yang muncul dari dalam hati kita. Pada hakikatnya, niat adalah kesengajaan untuk melakukan semua yang berasal dari hati kita.

Niat dalam puasa Ramadhan hendaknya dilakukan pada malam hari sebelum kita berpuasa. Dalam sebuah hadis riwayat lima Imam Hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang memiliki arti: “Barang siapa sebelum fajar tidak menetapkan (niat) puasa maka tidak sah baginya puasanya”

Dalam pelaksanaan niat puasa terdapat dua pendapat ulama. Pendapat pertama menyatakan niat puasa dilakukan tiap malam hari dan pendapat kedua menyatakan niat dilaksanakan satu kali untuk satu bulan.

3. Sahur
Sahur hukumnya sunat dan dilakukan sesudah tengah malam sampai sebelum imsyak. Sahur ini sangat dianjurkan untuk menambah tenaga selama menjalankan ibadah puasa hingga waktu berbuka tiba.

5. Meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan puasa
Terdapat dua macam hal-hal yang dapat membatalkan puasa seseorang. Pertama puasa seseorang batal dan berakibat harus menggantinya dihari yang lain sebanyak puasa yang dia tinggalkan. Hal tersebut dikarenakan perbuatan makan dan minum disiang hari, datang bulan (haid), atau nifas.

Hal kedua yang berakibat selain harus mengganti puasanya, seseorang harus membayar kafarat (denda), dikarenakan melakukan hubungan suami istri pada Siang hari di bulan Ramadhan.

6. Segera Berbuka Ketika Maghrib
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa selama berpuasa tiap muslim dianjurkan untuk segera berbuka ketika maghrib telah tiba.

Adapun waktu yang diharamkan untuk menjalankan ibadah puasa adalah hari raya Idul Fitri (1 Syawal), hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), dan hari Tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

/body>