Mengidentifikasi Kebiasaan, Etika dan Adat dalam Novel Angkatan 20-30an

HomeBahasa IndonesiaKelas IX  on 30 June 2013    comments  

Ciri khas novel adalah adanya perubahan nasib tokoh yang diceritakan. Novel merupakan karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

Novel angkatan 1920-an atau yang lebih dikenal dengan angkatan Balai Pustaka banyak dipengaruhi kehidupan tradisi dan sastra daerah. Sebuah karya sastra dibangun oleh dua unsur, yakni unsur intrinsik (dalam) dan unsur ekstrinsik (luar).

Unsur dalam atau inttrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam, yakni tokoh dan perwatakan, tema, plot,latar, gaya bahasa, sudut pandang.

Unsur ekstrinsik artinya unsur yang membangun karya sastra dari luar, misalnya saja masalah sosial, politik, budaya dan religi.

1. Adat
Adat adalah suaru aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat juga dapat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya.

Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Namun sebaliknya, jika tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku.

2. Kebiasaan
Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita.

3. Etika
Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan.

4. Bahasa
Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak ditemui dalam karya sastra angkatan 20-an.

Adapun sastrawan-sastrawan yang melahirkan karya sastra pada tahun 1920-an adalah sebagai berikut:
1. Merari Siregar
a. Azab dan Sengsara (1920)
b. Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
c. Cinta dan Hawa Nafsu

2. Marah Roesli
a. Siti Nurbaya (1922)
b. La Hami (1924)
c. Anak dan Kemenakan (1956)

3. Muhammad Yamin
a. Tanah Air (1922)
b. Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
c. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
d. Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

4. Nur Sutan Iskandar
a. Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
b. Cinta yang Membawa Maut (1926)
c. Salah Pilih (1928)
d. Karena Mentua (1932)
e. Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
f. Hulubalang Raja (1934)
g. Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

5. Tulis Sutan Sati
a. Tak Disangka (1923)
b. Sengsara Membawa Nikmat (1928)
c. Tak Membalas Guna (1932)
d. Memutuskan Pertalian (1932)

6. Djamaluddin Adinegoro
a. Darah Muda (1927)
b. Asmara Jaya (1928)

7. Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
Pertemuan (1927)

8. Abdul Muis
a. Salah Asuhan (1928)
b. Pertemuan Djodoh (1933)

9. Aman Datuk Madjoindo
a. Menebus Dosa (1932)
b. Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
c. Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Adapun Ciri-ciri novel angkatan 20-30an adalah sebagai berikut:

  • Tema berkisar masalah adan dan kawin paksa
  • Isinya kebanyakan mengkritik keburukan adat lama dalam soal perkawinan
  • Tokoh-tokohnya diceritakan sejak muda hingga meninggal dunia
  • Konflik yang dialami para tokoh kebanyakan disebabkan perselisihan dalam memilih nilai kehidupan (barat dan timur)
  • Pleonasme (menggunakan kata-kata yang berlebihan)
  • Bahasa terkesan kaku dan statis
  • Bahasanya sangat santun
  • para penulisnya kebanyakan berasal dari Pulau Sumatra


Novel angkatan tahun 1920-an
atau lebih ini juga dikenal dengan Angkatan Balai Pustaka, dimana novel ini banyak dipengaruhi oleh kehidupan tradisi dan sastra daerah. Hal tersebut menyebabkan lahirnya karya sastra dengan latar belakang ceritanya berisi adat istiadat suatu daerah. Misalnya saja, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan yang berlatar belakang adat-istiadat daerah Minangkabau, Sumatra Barat.

/body>